Friday, 22 April 2022

PENYEBAB SEPAKBOLA INDONESIA, BAIK ITU LEVEL TIMNAS MAUPUN LEVEL LIGA, KESULITAN UNTUK MELANGKAH YANG LEBIH BAIK

 Penyebab Sepakbola Indonesia, baik itu Level Timnas Indonesia maupun Level Liga Indonesia, Kesulitan untuk Melangkah Yang Lebih Baik


Penulis: Muhammad Irfan Budiman
Edit: Muhammad Irfan Budiman


Tanggal Pembuatan: 22 April 2022 17.06 WIB


- PSSI hanya menargetkan Timnas Indonesia juara di event-event olahraga seperti
  Piala AFF, Sea Games, dan Asian Games
- PSSI hanya menjadi kendaraan politik untuk maju menjadi Gubernur RI atau
  Presiden RI, seperti Mochammad Iriawan sibuk mencari dukungan dengan
  menyelenggarakan Kongres PSSI 2022 pada 29 Mei 2022 di Bandung, meminjam
  lapangan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung untuk menjadi
  pemusatan latihan Timnas Indonesia U-20 demi mempersiapkan Piala Dunia
  U-20 2023 Indonesia, dan lain sebagainya, untuk memuluskan kampanye menjadi
  Gubernur Jawa Barat 2024-2029
- Kompetisi liga yang amburadul
- Banyaknya mafia yang bermain di sepakbola Indonesia, khususnya level
  Liga Indonesia
- Seringnya bergonta-ganti pelatih Timnas Indonesia, mulai dari
  Benny Dollo (2000 - 2002 & 2008 - 2010), Ivan Kolev (2002 - 2004 & 2007),
  Peter White (2004 - 2007), Alfred Riedl (2010 - 2011, 2013 - 2014 & 2016),
  Wim Rijsbergen (2011 - 2012), Aji Santoso (2012), Nilmaizar (2012 - 2013),
  Luis Milla (2013), Rahmad Darmawan (2013), Jackson F. Tiago (2013),
  Pieter Huistra (2015), Bima Sakti (2018), Simon McMenemy (2018 - 2019),
  hingga Shin Tae-Yong (2019 - sekarang)
- Selalu menyalahkan pelatih apabila hasil pertandingan Timnas Indonesia tidak
  sesuai dengan harapan seluruh pecinta Sepakbola Indonesia
- Seringnya percaya proses pada permainan Timnas Indonesia & tidak didukung
  dengan progres yang disediakan oleh PSSI, seperti tidak adanya fasilitas latihan
  untuk Timnas Indonesia, permainan Timnas Indonesia yang monoton, terlalu
  sering melakukan longball saat pertandingan Timnas Indonesia berlangsung,
  dan lain sebagainya
- Banyaknya kecurangan wasit yang kontroversi sehingga membuat pertandingan
  tersebut patut dipertanyakan serta dicurigai oleh seluruh pecinta Sepakbola
  Indonesia, seperti pertandingan Liga 3 Indonesia 2021/2022 yang
  mempertemukan Bandung United vs Farmel FC & Persikota Tangerang vs
  Farmel FC
- Banyaknya kekeliruan wasit dalam mengambil keputusan salah satu pemain yang
  mencetak gol ke gawang lawan terjebak offside atau tidak
- Operator liga hanya sibuk mengurusi turnamen pra-musim yang diselenggarakan
  sebelum pertandingan Liga Indonesia berlangsung ketimbang memperbaiki
  kualitas liga yang berantakan, kinerja pemain-pemain yang tarkam saat pemain-
  pemain bermain di Liga 3 Indonesia, dan lain sebagainya
- Adanya pengaturan dalam proses pengundian grup (baca: pembagian pot)
  turnamen pra-musim 2022 sebelum proses drawing berlangsung
- Banyaknya tim-tim Liga Indonesia yang berganti nama hanya menjadi terkenal
  dan hanya menghasilkan tim secara instan, seperti AHHA PS Pati berganti nama
  menjadi Bekasi City FC, Persiram Raja Ampat & Tira-Persikabo berganti nama
  menjadi Persikabo 1973, Bintang Junior FC berganti nama menjadi
  Internazionale Banten, Persikubar Kutai Barat berganti nama menjadi
  Bhayangkara FC dan lain sebagainya
- Tidak adanya peraturan ketat dalam proses pergantian kepemilikan klub atau
  pergantian homebase, seperti Cilegon United & RANS Cilegon FC berganti nama
  menjadi RANS Nusantara FC, Martapura FC & Martapura Dewa United berganti
  nama menjadi Dewa United, Persikubar Kutai Barat berganti nama menjadi
  Bhayangkara FC, Pelita Jaya berganti nama menjadi Madura United FC, 
  Persebam FC berganti nama menjadi Depok City FC, Blitar United berganti nama
  menjadi Persib Bandung B (tim satelit Persib Bandung), Perseru Serui berganti
  nama menjadi Badak Lampung FC, Persisam Putra Samarinda berganti nama
  menjadi Bali United FC, dan lain sebagainya  
- PSSI & PT. LIB tidak belajar dari kesalahan yang pernah dialami sebelumnya
- Banyaknya orang-orang lama yang bekerja di dalam PSSI tidak mengerti
  sepakbola
- Rata-rata, para pemain Timnas Indonesia bermain tidak serius alias bermalas-
  malasan. Hal itu terlepas dari ucapan mantan asisten Shin Tae-Yong, Gong
  Oh-Kyun, seperti yang diwawancarai oleh salah satu media Vietnam, yakni
  Zing News, yang ditulis ulang salah satu website website Goal Indonesia &
  salah satu postingan akun Instagram @garudarevolution.ina

....................................................


Ucapan Gong Oh-Kyun Mengenai Penampilan Pemain-Pemain
Timnas Indonesia Yang Kesulitan Beradaptasi/ Belajar saat Pemain
Tersebut Masuk ke dalam Skuad Timnas Indonesia arahan Shin Tae-Yong
saat Diwawancarai oleh Zing News Yang Ditulis Ulang oleh Salah Satu
Website Goal Indonesia & Salah Satu Postingan Akun Instagram @garudarevolution.ina 

Menurut Website Goal Indonesia:
"Saya memilliki waktu yang singkat menangani pemain muda Indonesia. Kesan pertamanya, saat itu pemainnya agak jauh dan bisa dibilang agak susah didekati, kurang ramah. Di sesi latihan pun, pemain Indonesia kesulitan untuk beradaptasi atau belajar. Tapi saya pikir itu mungkin karena perbedaan budaya." ucap Gong Oh-Kyun

Menurut Akun Instagram @garudarevolution.ina:
"Pemain Indonesia Tidak Memiliki Tekad dan Semangat di Lapangan" ucap Gong Oh-Kyun

________________________

Sumber:
    - Website Tribun News Pontianak:
       Daftar Lengkap Pelatih dari Masa ke Masa (Part 3)
    - Website Goal Indonesia & Instagram @garudarevolution.ina
       Eks Asisten Shin Tae-Yong: Pemain Indonesia Malas-Malasan,
       Vietnam Pekerja Keras (Website Goal Indonesia) & 


#PSSIBisaApa?
#RombakPSSI

No comments:

Post a Comment

PENYEBAB #BOIKOTINDOSIAR TRENDING DI TWITTER HINGGA MENDAPATKAN TANGGAPAN DARI YLKI (YAYASAN LEMBAGA KONSUMEN INDONESIA) & APPI (ASOSIASI PESEPAKBOLAAN PROFESIONAL INDONESIA) MENGENAI KEJADIAN TERSEBUT

Penyebab #BoikotIndosiar Trending di Twitter Hingga  Mendapatkan Tanggapan dari YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) & APPI (Asosia...